Pujian sebagai Alat Kontrol: Dinamika Kekuasaan Halus di Dunia Kerja

 


Dalam dunia kerja modern, pujian sering dipersepsikan sebagai bentuk apresiasi yang positif dan manusiawi. Ia dianggap mampu meningkatkan motivasi, membangun kepercayaan diri, serta mempererat hubungan antara atasan dan bawahan. Namun, di balik citra positif tersebut, pujian—khususnya yang diberikan kepada karyawan baru—dapat berfungsi sebagai alat kontrol yang halus namun efektif. Kontrol ini tidak bekerja melalui perintah keras atau ancaman sanksi, melainkan melalui mekanisme psikologis yang menyentuh kebutuhan dasar manusia: pengakuan dan penerimaan.

Karyawan baru berada pada posisi yang rentan. Mereka memasuki lingkungan yang belum sepenuhnya dikenal, berusaha memahami budaya kerja, serta ingin membuktikan bahwa mereka layak berada di posisi tersebut. Dalam fase ini, pujian dari atasan memiliki bobot yang jauh lebih besar dibandingkan pada karyawan lama. Sebuah kalimat sederhana seperti “kamu cepat belajar” atau “kamu beda dari yang lain” dapat menjadi sumber validasi yang kuat. Pujian tersebut menumbuhkan rasa aman sekaligus harapan: bahwa dengan mempertahankan perilaku tertentu, penerimaan dan penghargaan akan terus didapatkan.

Di sinilah pujian mulai beralih fungsi dari sekadar apresiasi menjadi alat pengarah perilaku. Ketika atasan secara konsisten memuji karyawan yang lembur, selalu patuh, atau jarang mempertanyakan keputusan, maka pesan implisit yang diterima karyawan adalah bahwa perilaku-perilaku itulah yang dianggap ideal. Tanpa perlu instruksi eksplisit, karyawan belajar menyesuaikan diri. Mereka bekerja lebih lama, menekan keberatan pribadi, dan menghindari sikap kritis—bukan karena kewajiban formal, melainkan karena keinginan mempertahankan citra positif di mata atasan.

Lebih jauh, pujian yang disertai perbandingan sosial dapat memperkuat kontrol ini. Ketika seorang karyawan dipuji dengan cara dibandingkan dengan rekan lain, ego dan identitas profesionalnya ikut terikat pada penilaian atasan. Ia terdorong untuk terus tampil unggul, bahkan jika itu berarti mengorbankan batas kerja dan kesehatan pribadi. Dalam jangka pendek, organisasi mungkin diuntungkan oleh meningkatnya produktivitas. Namun dalam jangka panjang, praktik semacam ini berisiko menciptakan kelelahan kerja, ketergantungan emosional, dan budaya kerja yang tidak sehat.

Masalah menjadi lebih serius ketika pujian tidak disertai kejelasan standar kerja. Label seperti “karyawan andalan” atau “harapan perusahaan” terdengar membanggakan, tetapi sering kali kabur secara operasional. Tanpa indikator kinerja yang jelas, karyawan akan terus menaikkan standar kerja mereka sendiri demi menjaga label tersebut. Akibatnya, beban kerja menjadi tidak terbatas, sementara kompensasi dan pengakuan formal tidak selalu sebanding.

Penting untuk dicatat bahwa pujian itu sendiri bukanlah sesuatu yang salah. Pujian menjadi problematis ketika digunakan secara instrumental untuk mengendalikan, bukan memberdayakan. Pujian yang sehat bersifat spesifik, transparan, dan diiringi batasan yang jelas. Ia mengakui kontribusi tanpa menuntut pengorbanan tersembunyi. Sebaliknya, pujian manipulatif cenderung umum, berlebihan, dan diikuti ekspektasi tambahan yang tidak pernah dinegosiasikan secara terbuka.

Bagi karyawan baru, kesadaran akan dinamika ini menjadi penting. Menerima pujian tidak berarti harus kehilangan otonomi. Profesionalisme justru ditunjukkan dengan kemampuan menjaga batas kerja, meminta kejelasan ekspektasi, dan memahami bahwa nilai diri tidak sepenuhnya ditentukan oleh validasi atasan. Sementara bagi organisasi, penggunaan pujian secara etis bukan hanya soal moral, tetapi juga investasi jangka panjang terhadap kesehatan budaya kerja.

Pada akhirnya, pujian adalah alat yang netral. Ia bisa menjadi sumber motivasi yang tulus, atau sebaliknya, menjadi mekanisme kontrol yang membungkus kekuasaan dengan senyum. Perbedaannya terletak pada niat, konteks, dan konsistensi. Dunia kerja yang dewasa bukanlah dunia tanpa pujian, melainkan dunia di mana pujian tidak digunakan untuk menggantikan keadilan, kejelasan, dan penghormatan terhadap batas manusia.

Author

Mas Rahman Nama saya surahman umur 24 tahun, belum menikah/single, alamat Banjarnegara No WA 0852-2645-3701 ya kali aja ada yang mau kenalan :D

Posting Komentar