Analisis Risiko Nyata KOPDES MERAH PUTIH: Satu Koperasi di Satu Desa
Mari kita berhitung secara sederhana.
Skema Pembiayaan
Total pinjaman koperasi: Rp3 miliar
Rp2,5 miliar untuk pembangunan gedung, sarana prasarana, dan kendaraan.
Rp500 juta sebagai modal kerja (modal usaha yang diputar).
Pinjaman ini bukan hibah, melainkan kredit dengan bunga 4% per tahun.
Artinya, setelah dana cair dan operasional dimulai, koperasi harus membayar angsuran sekitar Rp50 juta per bulan, atau setara dengan Rp600 juta per tahun.
Target Omzet yang Harus Dicapai
Agar mampu membayar angsuran Rp50 juta per bulan dari laba bersih, mari kita hitung:
Jika margin bersih 5%
Rp50 juta ÷ 5% = Rp1 miliar omzet per bulan
Artinya koperasi harus mencatatkan omzet sekitar: Rp33 juta per hari, secara stabil.
Jika margin bersih 3% (lebih realistis untuk retail sembako)
Rp50 juta ÷ 3% = Rp1,67 miliar omzet per bulan
Pertanyaannya:
Apakah seluruh desa memiliki daya beli sebesar itu?
Apakah pengurus memiliki pengalaman mengelola usaha dengan omzet miliaran rupiah secara stabil selama bertahun-tahun?
Perlu disadari, koperasi desa dengan skema ini bukan sekadar warung kelontong biasa. Ini adalah entitas bisnis yang dituntut menghasilkan puluhan juta rupiah per hari agar dapat bertahan.
Dan angka Rp50 juta itu baru untuk cicilan. Belum termasuk:
Gaji pegawai
Biaya operasional
Penyusutan aset
Cadangan risiko
Sisa Hasil Usaha (SHU) untuk anggota
Skenario Risiko
1️⃣ Macet Ringan
Koperasi hanya mampu menghasilkan laba Rp35 juta per bulan.
Defisit Rp15 juta per bulan.
Setahun defisit Rp180 juta.
Kemungkinan yang terjadi:
Restrukturisasi kredit
Pengurangan biaya operasional
Penundaan program pengembangan
2️⃣ Macet Sedang
Koperasi hanya mampu membayar Rp25 juta per bulan.
Defisit Rp25 juta per bulan.
Setahun defisit Rp300 juta.
Dampak:
Arus kas tertekan
Pengurus mulai disalahkan
Kepercayaan anggota melemah
Risiko konflik internal meningkat
3️⃣ Gagal Total
Koperasi tidak menghasilkan laba sama sekali.
Lubang Rp600 juta per tahun.
Bunga tetap berjalan.
Status kredit menjadi bermasalah.
Ini bukan sekadar kegagalan usaha, tetapi berpotensi menjadi beban sosial dan politik di tingkat desa.
Dampak Terhadap Keuangan Desa
Jika dalam kondisi tertentu desa ikut terdampak atau bahkan harus menopang pembiayaan, maka risiko yang muncul:
Pembangunan jalan tertunda
Perbaikan saluran air terhambat
Program pemberdayaan masyarakat terpangkas
Infrastruktur kecil desa terancam berhenti
Dalam teori ekonomi publik, kondisi ini dikenal sebagai crowding out, yaitu ketika anggaran pembangunan terserap untuk menutup risiko usaha, sehingga fungsi pembangunan lainnya terganggu.
Penutup
Koperasi adalah instrumen ekonomi rakyat yang mulia. Namun setiap keputusan pembiayaan harus dihitung secara matang—berbasis data, kapasitas riil pasar, serta kemampuan manajerial pengurus.
Bersikap kritis bukan berarti menolak kemajuan. Justru dengan analisis terbuka dan perhitungan yang rasional, kita menjaga agar koperasi benar-benar menjadi alat kesejahteraan, bukan sumber masalah baru.


Posting Komentar
Posting Komentar