Sumber Perbedaan Cara Shalat antara Sunni dan Syiah

 



Shalat merupakan ibadah utama dalam Islam yang diwajibkan lima kali sehari bagi setiap Muslim. Baik Sunni maupun Syiah sama-sama meyakini kewajiban ini tanpa perbedaan. Namun, dalam praktiknya, terdapat beberapa perbedaan dalam tata cara pelaksanaan shalat. Perbedaan tersebut bukan pada inti ibadah, melainkan pada detail teknis yang dipengaruhi oleh perbedaan sumber hadis dan cara penafsiran ajaran agama.


Salah satu perbedaan yang paling terlihat adalah dalam pengaturan waktu shalat. Umat Sunni umumnya melaksanakan shalat secara terpisah dalam lima waktu yang berbeda, yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Sementara itu, umat Syiah memperbolehkan penggabungan (jama’) antara Dzuhur dengan Ashar serta Maghrib dengan Isya, sehingga dalam praktiknya sering dilakukan dalam tiga waktu, meskipun tetap berjumlah lima shalat.

Sunni:

Shalat dilakukan terpisah di 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya).

Syiah:

Boleh menggabungkan (jama'):

Dzuhur + Ashar

Maghrib + Isya

Jadi sering terlihat seperti 3 waktu, tapi tetap 5 shalat.

Perbedaan juga terlihat dalam posisi tangan saat berdiri dalam shalat. Umat Sunni biasanya bersedekap dengan meletakkan tangan di dada atau perut, sedangkan umat Syiah membiarkan tangan lurus di samping tubuh. Dalam hal sujud, Sunni umumnya sujud langsung di atas sajadah atau lantai, sementara Syiah menggunakan alas dari bahan alami seperti tanah atau batu kecil (turbah) sebagai tempat dahi bersentuhan.


Selain itu, terdapat perbedaan dalam beberapa bacaan dan gerakan shalat, seperti pengucapan “Aamiin” setelah Al-Fatihah serta cara mengakhiri shalat dengan salam. Perbedaan-perbedaan ini muncul bukan karena perbedaan tujuan ibadah, melainkan karena perbedaan dalam memahami dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad.


Akar utama dari perbedaan ini terletak pada sumber hadis yang digunakan. Sunni menerima hadis dari banyak sahabat Nabi, sementara Syiah lebih memfokuskan pada riwayat yang berasal dari keluarga Nabi (Ahlul Bait). Akibatnya, terdapat variasi dalam riwayat yang dijadikan dasar dalam menentukan tata cara ibadah, termasuk shalat.

Dalam Syiah (terutama Syiah Imamiyah), hadis diambil dari:

Nabi Muhammad ﷺ

Keluarga Nabi (Ahlul Bait), terutama:

Ali bin Abi Thalib

Hasan bin Ali

Husain bin Ali

Para imam keturunan beliau

Kitab hadis utama:

Al-Kafi

➡️ Jadi, Syiah lebih selektif, hanya mengambil dari jalur keluarga Nabi.

Selain itu, metode penafsiran juga berbeda. Sunni menggunakan pendekatan yang lebih luas dengan melibatkan Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas. Sementara Syiah lebih menitikberatkan pada penafsiran yang bersumber dari Ahlul Bait dan para imam yang dianggap memiliki otoritas khusus dalam memahami ajaran Islam.


Kesimpulannya, meskipun terdapat perbedaan dalam detail pelaksanaan shalat antara Sunni dan Syiah, keduanya tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah. Perbedaan tersebut lebih bersifat teknis dan historis, bukan pada prinsip dasar keimanan. Oleh karena itu, memahami perbedaan ini dengan sikap terbuka dapat membantu memperkuat toleransi dan persatuan di antara umat Islam.

Author

Mas Rahman Nama saya surahman umur 24 tahun, belum menikah/single, alamat Banjarnegara No WA 0852-2645-3701 ya kali aja ada yang mau kenalan :D

Posting Komentar